Header Ads

Ini pentingnya berobat di Rumah Sakit yang sama secara berkelanjutan

via Pexels
Kemarin saya bertemu dengan beberapa penggiat startup yang berasal dari bervariasi daerah di Indonesia. Mereka menceritakan bagaimana keunggulan produk mereka dalam mempermudah kehidupan orang banyak. Namun ada salah satu produk membuat saya tertarik. Produk yang belum memiliki nama itu mempunyai manfaat seperti dibawah ini :


Saya mempunyai mimpi kalau masyarakat Indonesia kelak akan mempunyai dan menyimpan rekam medisnya sendiri, sehingga kemanapun ia berobat, rekam medis tersebut akan bertambah seiring dengan pengobatan yang dijalani.


Bagi sebagian orang, manfaat diatas merupakan manfaat yang biasa saja. Namun tidak bagi saya.

Bayangkan jika seluruh orang di Indonesia memiliki akses yang mudah atas rekam medisnya masing - masing. Ketika pasien telah menjalani pengobatan / perawatan, maka tim medis akan membuat rekam medis pasien dan menyimpannya secara cloud agar pasien dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun. Rekam medis tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan klaim asuransi seperti asuransi kesehatan maupun tindakan medis lanjutan berdasarkan rekam medis yang sudah ada.

Dalam Permenkes tahun 2008 sebagaimana yang saya kutip dari halaman Hukum Online menyatakan demikian:

Batas waktu penyimpanan rekam medis selama lima tahun pun dijabarkan lebih tegas. Setelah batas waktu lima tahun terlampaui, maka rekam medis dapat dimusnahkan. Kecuali ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medik. Dokumen yang disebut terakhir wajib disimpan minimal 10 tahun terhitung sejak tanggal dibuatnya ringkasan tersebut.

Adapun alasan mengapa pasien disarankan untuk berobat di Rumah Sakit yang sama secara berkelanjutan ialah untuk menjaga konsistensi dan Rekam Medis yang berkelanjutan. Jika pasien telah berobat dan mengalami perawatan di rumah sakit RSA secara berkelanjutan, maka rekam medis atas pasien tersebut akan diperbarui secara terus menerus.

Namun apabila pasien telah berobat dan mengalami perawatan di Rumah Sakit RSA dan dilanjutkan dengan RSB serta RSC, maka pasien mungkin perlu menyatukan hasil rekam medis yang berasal dari RSA, RSB, serta RSC tersebut. Hal ini mungkin berakibat pada biaya dikenakan pada pasien.

Sebagai contoh, apabila pasien mengidap penyakit P dan telah menjalani Perawatan PW1 serta mengonsumsi obat O1 yang dianjurkan dari RSA, kemudian pasien tersebut terpaksa mengalami penyakit P yang kambuh dan menjalani pengobatan di Rumah Sakit RSB, bukan tidak mungkin pasien tersebut akan dikenakan proses yang sama seperti di Rumah Sakit RSA.

Jika pasien kembali berobat di RSA, maka pasien mungkin akan menjalani tindakan medis lanjutan berdasarkan rekam medis yang tersimpan di RSA.

No comments

Berikan tanggapan atas artikel ini